Penebalan Tendon Achilles Bisa Menjadi Tanda Kolesterol Tinggi
Kolesterol tinggi merupakan gangguan kesehatan yang sering tidak disadari karena umumnya tidak menimbulkan gejala yang mudah dikenali. Seseorang dapat memiliki kadar kolesterol dalam darah di atas batas normal meskipun merasa sehat dan tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena kadar kolesterol tertentu yang berlebihan, terutama kolesterol lipoprotein densitas rendah atau low-density lipoprotein (LDL), dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, penumpukan kolesterol pada dinding arteri dapat memicu aterosklerosis, yaitu penyempitan dan pengerasan pembuluh darah yang berpotensi menyebabkan serangan jantung maupun stroke.
Salah satu tanda fisik yang dapat berkaitan dengan gangguan kolesterol adalah xanthoma tendon, yakni penumpukan zat yang mengandung kolesterol pada jaringan tendon. Kondisi ini dapat muncul dalam bentuk benjolan di bawah kulit atau perubahan ketebalan tendon yang berkembang secara perlahan.
Tendon Achilles menjadi salah satu lokasi yang perlu diperhatikan. Jaringan ini berada di bagian belakang pergelangan kaki dan menghubungkan otot betis dengan tulang tumit. Penebalan yang tidak biasa pada tendon tersebut dapat menjadi petunjuk adanya gangguan metabolisme lemak, terutama pada individu dengan hiperkolesterolemia familial atau kelainan kolesterol yang diturunkan dalam keluarga.
“Tendon Achilles adalah lokasi xanthoma tendon yang paling umum,” tulis sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Lipids in Health and Disease, dikutip dari Mirror UK.
Meski demikian, penebalan tendon Achilles tidak otomatis berarti seseorang memiliki kolesterol tinggi. Kelainan pada tendon juga dapat dipengaruhi oleh cedera, peradangan, dan kondisi kesehatan lainnya. Oleh karena itu, temuan tersebut perlu dinilai bersama riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan hasil tes darah.
Mengenal Xanthoma Tendon dan Hubungannya dengan Kolesterol
Xanthoma tendon merupakan endapan lipid yang terbentuk di dalam atau di sekitar tendon. Endapan tersebut dapat berkembang ketika tubuh mengalami gangguan pengelolaan kolesterol, khususnya pada kondisi dengan kadar LDL yang sangat tinggi dan berlangsung lama.
Berbeda dari penumpukan lemak di bawah kulit yang terkadang terlihat sebagai benjolan lunak, xanthoma tendon dapat menyebabkan jaringan tendon menebal dan terasa lebih besar daripada biasanya. Perubahan ini umumnya berkembang secara bertahap sehingga tidak selalu disadari oleh penderitanya.
Pada tendon Achilles, perubahan dapat terlihat sebagai pembesaran di bagian belakang pergelangan kaki. Sebagian orang mungkin merasakan ketidaknyamanan ketika berjalan atau melakukan aktivitas fisik, meskipun xanthoma tendon tidak selalu menimbulkan rasa sakit.
Tanda-tanda yang perlu diperhatikan meliputi:
- Penebalan tendon Achilles yang berlangsung perlahan.
- Pembesaran jaringan di belakang pergelangan kaki.
- Benjolan atau perubahan bentuk tendon yang tidak biasa.
- Keluhan pada tendon yang disertai riwayat kolesterol tinggi dalam keluarga.
Penebalan tendon Achilles menjadi lebih penting untuk dievaluasi apabila terjadi pada orang dengan riwayat keluarga mengalami hiperkolesterolemia familial, penyakit jantung koroner pada usia relatif muda, atau kadar LDL yang sangat tinggi.
Hiperkolesterolemia familial merupakan kelainan genetik yang menyebabkan tubuh kesulitan mengendalikan kadar kolesterol LDL. Akibatnya, seseorang dapat memiliki kolesterol sangat tinggi sejak usia muda dan menghadapi risiko penyakit jantung lebih awal dibandingkan populasi umum.
“Penebalan tendon Achilles adalah karakteristik awal xanthoma tendon Achilles,” jelas peneliti.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan pada tendon dapat menjadi petunjuk tambahan dalam menilai kemungkinan gangguan kolesterol. Namun, pemeriksaan tendon tidak dapat menggantikan pemeriksaan profil lipid melalui darah untuk mengetahui kadar kolesterol seseorang secara langsung.
Hasil Penelitian tentang Ketebalan Tendon Achilles
Hubungan antara kolesterol dan ketebalan tendon Achilles menjadi perhatian dalam penelitian yang melibatkan 205 peserta berusia 18 hingga 75 tahun. Para peserta dibagi menjadi kelompok dengan kadar kolesterol normal, kelompok dengan peningkatan LDL pada tingkat ambang batas, serta kelompok hiperkolesterolemia.
Peneliti menggunakan teknik radiografi digital untuk mengukur ketebalan tendon Achilles atau Achilles tendon thickness (ATT). Pengukuran tersebut dilakukan untuk melihat apakah terdapat perbedaan karakteristik tendon di antara kelompok dengan kondisi kolesterol yang berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta dengan kadar kolesterol tinggi memiliki tendon Achilles yang secara signifikan lebih tebal dibandingkan peserta dengan kadar kolesterol normal.
Perbedaan ini mendukung kemungkinan bahwa ketebalan tendon Achilles dapat memberikan informasi tambahan dalam penilaian gangguan kolesterol. Endapan lipid pada tendon diketahui dapat berkaitan dengan paparan kolesterol LDL yang tinggi dalam waktu lama.
“ATT dapat berfungsi sebagai indeks diagnostik tambahan yang berharga untuk hiperkolesterolemia dan dapat digunakan untuk penilaian dan pengelolaan penyakit kardiovaskular,” simpul para peneliti.
Meski demikian, hasil tersebut perlu dipahami secara proporsional. Penelitian yang menunjukkan hubungan antara ketebalan tendon dan kolesterol tidak berarti setiap orang dengan tendon Achilles tebal pasti mengalami hiperkolesterolemia.
Pengukuran ketebalan tendon juga belum dapat dijadikan pengganti pemeriksaan darah sebagai metode utama untuk mengetahui kadar kolesterol. Pemeriksaan tersebut lebih tepat dipandang sebagai informasi pendukung, terutama ketika dokter mencurigai hiperkolesterolemia familial atau menemukan tanda xanthoma tendon.
Bagi masyarakat, pesan pentingnya adalah tidak mengabaikan perubahan fisik yang tidak biasa, khususnya jika disertai faktor risiko penyakit jantung. Pemeriksaan medis dapat membantu menentukan apakah perubahan tersebut berhubungan dengan kolesterol atau disebabkan kondisi lain.
Mengapa Kolesterol Tinggi Dapat Memicu Stroke dan Serangan Jantung?
Kolesterol sebenarnya merupakan zat lemak yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk membran sel, memproduksi hormon tertentu, dan menjalankan berbagai fungsi biologis. Masalah muncul ketika kadar kolesterol dalam darah tidak terkendali, terutama apabila LDL berada pada tingkat tinggi.
“Tubuh membutuhkan kolesterol untuk membangun sel-sel yang sehat, tetapi kadar kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung,” jelas para ahli.
Kolesterol diangkut melalui aliran darah oleh partikel yang disebut lipoprotein. LDL membawa kolesterol ke berbagai jaringan tubuh. Namun, kadar LDL yang berlebihan dapat mendorong penumpukan kolesterol pada dinding arteri dan berkontribusi terhadap pembentukan plak aterosklerosis.
Plak tersebut dapat mempersempit pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi terbatas. Seiring waktu, kondisi ini dapat mengganggu pasokan oksigen dan nutrisi ke organ-organ penting, termasuk jantung dan otak.
Risiko serangan jantung meningkat ketika pembuluh darah koroner yang memasok otot jantung mengalami penyumbatan. Apabila aliran darah terhenti atau berkurang secara drastis, jaringan otot jantung dapat mengalami kerusakan.
Sementara itu, stroke iskemik dapat terjadi ketika pembuluh darah yang memasok otak tersumbat. Penyumbatan bisa berkaitan dengan aterosklerosis pada pembuluh darah otak atau pembuluh darah lain yang memasok otak.
Penting dipahami bahwa kolesterol tinggi tidak selalu menyebabkan serangan jantung atau stroke secara langsung pada setiap orang. Risiko dipengaruhi berbagai faktor, termasuk tekanan darah, diabetes, kebiasaan merokok, usia, riwayat keluarga, serta kadar kolesterol dan kondisi kesehatan lainnya.
Karena proses aterosklerosis dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa gejala yang jelas, pengendalian kolesterol menjadi bagian penting dari upaya pencegahan penyakit kardiovaskular.
Kolesterol Tinggi Sering Tidak Menimbulkan Gejala
Salah satu alasan kolesterol tinggi kerap terlambat diketahui adalah tidak adanya keluhan khas yang dapat diandalkan. Seseorang mungkin tidak merasakan sakit kepala, pusing, atau keluhan lain meskipun kadar LDL dalam darahnya sudah tinggi.
Dengan demikian, tidak tepat menyimpulkan kadar kolesterol normal hanya karena tubuh terasa sehat. Demikian pula, pusing atau sakit kepala bukan tanda khusus yang dapat memastikan seseorang mengalami kolesterol tinggi.
Tanda fisik seperti xanthoma tendon memang dapat muncul pada sebagian orang, tetapi banyak penderita kolesterol tinggi tidak menunjukkan perubahan tersebut. Oleh karena itu, pemeriksaan darah tetap menjadi cara utama untuk mengetahui kondisi lipid dalam tubuh.
Pemeriksaan profil lipid umumnya mencakup beberapa komponen berikut:
| Komponen | Fungsi pemeriksaan |
|---|---|
| Kolesterol total | Mengukur jumlah kolesterol dalam darah secara keseluruhan. |
| LDL | Menilai kadar kolesterol yang berperan penting dalam pembentukan plak aterosklerosis. |
| HDL | Mengukur kolesterol yang berperan dalam pengangkutan kolesterol kembali menuju hati. |
| Trigliserida | Mengukur jenis lemak darah lain yang juga berkaitan dengan risiko kardiometabolik. |
Hasil pemeriksaan perlu ditafsirkan sesuai kondisi setiap orang. Sasaran LDL bagi individu dengan risiko penyakit kardiovaskular tinggi dapat berbeda dari sasaran bagi orang yang tidak memiliki faktor risiko utama.
Karena itu, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kolesterol sangat tinggi atau penyakit jantung pada usia muda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai waktu pemeriksaan dan kebutuhan skrining lebih lanjut.
Siapa yang Perlu Memeriksakan Kolesterol Secara Berkala?
Pemeriksaan kolesterol tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang sudah mengalami penyakit jantung. Orang yang merasa sehat pun dapat memerlukan pemeriksaan, terutama apabila memiliki faktor risiko tertentu.
Layanan kesehatan Inggris atau National Health Service (NHS) menjelaskan bahwa dokter dapat menyarankan tes kolesterol berdasarkan pertimbangan seperti usia, berat badan, dan kondisi kesehatan lain.
“Dokter umum Anda mungkin menyarankan untuk melakukan tes jika mereka berpikir kadar kolesterol Anda mungkin tinggi. Ini mungkin karena usia, berat badan, atau kondisi lain yang Anda miliki (seperti tekanan darah tinggi atau diabetes),” saran layanan kesehatan Inggris atau NHS.
Kelompok yang perlu memperhatikan pemeriksaan kolesterol antara lain:
- Orang dewasa yang belum pernah menjalani pemeriksaan lipid. Pemeriksaan membantu mengetahui kondisi kolesterol sebelum muncul komplikasi.
- Individu dengan riwayat keluarga hiperkolesterolemia. Kelainan genetik dapat menyebabkan kadar LDL sangat tinggi sejak usia muda.
- Orang dengan tekanan darah tinggi atau diabetes. Faktor-faktor ini dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
- Individu dengan berat badan berlebih atau obesitas. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan metabolisme lipid.
- Perokok. Merokok meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama jika disertai kolesterol tinggi.
- Orang yang pernah mengalami penyakit kardiovaskular. Pemeriksaan dibutuhkan untuk membantu mengendalikan risiko dan menentukan sasaran pengobatan.
Usia di atas 40 tahun dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk penilaian risiko kardiovaskular. Namun, orang yang lebih muda juga dapat membutuhkan pemeriksaan apabila memiliki riwayat keluarga atau faktor risiko yang kuat.
Frekuensi pemeriksaan sebaiknya ditentukan berdasarkan hasil sebelumnya, faktor risiko, dan rekomendasi tenaga kesehatan. Tidak semua orang memerlukan jadwal pemeriksaan yang sama.
Cara Menurunkan Kolesterol Tinggi melalui Pola Makan
Perubahan pola makan merupakan salah satu langkah penting untuk membantu mengendalikan kolesterol LDL. Pilihan makanan yang tepat dapat meningkatkan asupan serat, menggantikan lemak jenuh dengan lemak tidak jenuh, serta mendukung kesehatan jantung dalam jangka panjang.
Makanan yang dapat menjadi bagian dari pola makan sehat untuk kolesterol antara lain:
- Kacang polong, buncis, dan lentil. Kelompok kacang-kacangan ini mengandung serat larut yang membantu mengurangi penyerapan kolesterol di saluran pencernaan.
- Oat dan gandum utuh. Oat mengandung beta-glukan, yaitu jenis serat larut yang dapat membantu menurunkan LDL apabila dikonsumsi secara teratur sebagai bagian dari pola makan sehat.
- Buah-buahan. Apel, jeruk, pir, dan buah lain menyediakan serat serta berbagai vitamin dan mineral.
- Kacang-kacangan dan biji-bijian. Almond, kenari, biji chia, dan biji rami dapat menjadi sumber lemak tidak jenuh dan serat.
- Ikan. Ikan dapat menjadi sumber protein yang baik dan, pada jenis tertentu, menyediakan asam lemak omega-3 yang bermanfaat untuk kesehatan kardiovaskular.
- Sayuran. Beragam sayuran membantu meningkatkan asupan serat dan mendukung pola makan seimbang.
Sebaliknya, konsumsi lemak jenuh dan lemak trans perlu dibatasi. Sumber lemak jenuh antara lain daging berlemak, mentega, serta sebagian produk olahan yang tinggi lemak. Menggantinya dengan lemak tidak jenuh dari ikan, kacang-kacangan, dan minyak nabati yang sesuai dapat membantu memperbaiki profil lipid.
Mengurangi konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi lemak jenuh, gula, atau garam juga dapat mendukung pengendalian risiko kardiometabolik. Perubahan sebaiknya dilakukan secara konsisten, bukan hanya dalam waktu singkat setelah hasil tes menunjukkan kolesterol tinggi.
Kapan Perubahan Gaya Hidup Perlu Disertai Obat?
Pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, pengendalian berat badan, dan berhenti merokok merupakan langkah penting dalam pengelolaan kolesterol. Namun, perubahan gaya hidup tidak selalu cukup untuk menurunkan LDL hingga sasaran yang dibutuhkan.
Pada individu dengan kadar LDL sangat tinggi, hiperkolesterolemia familial, atau risiko kardiovaskular tinggi, dokter dapat merekomendasikan obat penurun kolesterol, seperti statin. Pilihan terapi dan intensitas pengobatan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan serta kondisi klinis masing-masing pasien.
Orang yang memiliki xanthoma tendon atau penebalan tendon Achilles yang tidak biasa, terutama jika disertai riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi, sebaiknya menjalani evaluasi medis. Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan profil lipid, penilaian risiko kardiovaskular, dan pemeriksaan tambahan jika diperlukan.
Benjolan di kaki bukan alasan untuk langsung mengonsumsi obat penurun kolesterol tanpa pemeriksaan. Sebaliknya, tidak adanya benjolan juga tidak menjamin kadar kolesterol berada dalam rentang yang sehat.
Jika seseorang mengalami nyeri dada yang menekan, sesak napas mendadak, keringat dingin, atau nyeri yang menjalar ke lengan dan rahang, segera cari pertolongan darurat karena gejala tersebut dapat menandakan serangan jantung. Wajah menurun sebelah, kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, atau gangguan bicara juga memerlukan penanganan darurat karena dapat menjadi tanda stroke.


