Sensasi dada terasa terbakar dapat muncul setelah makan, ketika berbaring, saat mengalami stres, maupun ketika melakukan aktivitas fisik.
Keluhan ini sering dikaitkan dengan naiknya asam lambung ke kerongkongan. Namun, rasa panas di dada juga dapat menjadi tanda gangguan kesehatan yang lebih serius, termasuk penyakit jantung dan gangguan pada paru-paru.
Karakteristik keluhan yang dirasakan setiap orang tidak selalu sama. Sebagian orang mengalami sensasi panas yang menjalar dari ulu hati ke dada, sedangkan lainnya merasakan tekanan, nyeri, sesak, atau ketidaknyamanan di bagian tengah dada. Gejala tersebut terkadang sulit dibedakan hanya berdasarkan sensasi yang muncul.
Oleh karena itu, dada terasa terbakar tidak seharusnya langsung dianggap sebagai gangguan asam lambung. Terutama apabila keluhan muncul mendadak, terasa berat, disertai sesak napas, keringat dingin, pusing, atau nyeri yang menjalar ke lengan dan rahang.
Mengenali berbagai kemungkinan penyebabnya dapat membantu seseorang memahami gejala yang dialami dan menentukan kapan harus mencari pertolongan medis. Berikut 10 kondisi yang dapat menimbulkan sensasi terbakar di dada, mulai dari gangguan pencernaan hingga keadaan darurat yang membutuhkan penanganan segera.
10 Penyebab Dada Terasa Terbakar yang Perlu Diketahui
1. Kecemasan atau Anxiety
Kecemasan atau anxiety dapat memicu berbagai reaksi fisik, termasuk nyeri dan sensasi panas di dada. Kondisi ini dapat terjadi ketika seseorang menghadapi tekanan emosional, mengalami serangan panik, atau merasa takut secara berlebihan terhadap situasi tertentu.
Ketika kecemasan meningkat, tubuh mengaktifkan respons terhadap stres yang dapat mempercepat detak jantung, mengubah pola pernapasan, dan meningkatkan ketegangan otot. Perubahan tersebut dapat menimbulkan rasa sesak, tekanan, atau sensasi terbakar di area dada.
Keluhan yang berhubungan dengan kecemasan dapat muncul secara bertahap ataupun mendadak. Sebagian orang merasakan nyeri tajam seperti tertusuk, sementara yang lain mengalami rasa panas, kesemutan, atau ketidaknyamanan yang berlangsung selama beberapa waktu.
Gejala lain yang dapat menyertai kecemasan meliputi jantung berdebar, napas terasa pendek, gemetar, berkeringat, pusing, dan perasaan takut kehilangan kendali.
Meskipun demikian, nyeri dada tidak boleh langsung dinyatakan sebagai akibat kecemasan, khususnya apabila baru pertama kali terjadi atau memiliki karakteristik yang berbeda dari biasanya. Gangguan jantung dapat menimbulkan gejala serupa, sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab berbahaya.
2. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)
Gastroesophageal Reflux Disease atau GERD merupakan salah satu penyebab umum sensasi terbakar di dada. Penyakit ini terjadi ketika isi lambung, termasuk asam lambung, berulang kali mengalir kembali ke kerongkongan atau esofagus.
Kerongkongan tidak memiliki perlindungan yang sama dengan lapisan lambung terhadap paparan asam. Akibatnya, refluks dapat menimbulkan iritasi dan menghasilkan sensasi panas yang dikenal sebagai heartburn.
Rasa terbakar akibat GERD umumnya terasa di belakang tulang dada dan dapat menjalar ke arah tenggorokan. Keluhan sering muncul setelah makan dalam porsi besar, mengonsumsi makanan berlemak, atau berbaring tidak lama setelah makan.
Selain dada terasa terbakar, penderita GERD dapat mengalami sejumlah gejala berikut:
- Cairan atau makanan terasa naik kembali ke tenggorokan.
- Mulut terasa asam atau pahit.
- Kesulitan atau rasa tidak nyaman ketika menelan.
- Sering bersendawa.
- Nyeri pada ulu hati atau perut bagian atas.
- Batuk berkepanjangan atau suara serak pada sebagian penderita.
GERD yang berlangsung lama dan tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan peradangan pada kerongkongan. Sebagian penderita juga mengalami gangguan tidur karena keluhan memburuk ketika berbaring.
Pengelolaan GERD dapat mencakup perubahan pola makan, pengaturan waktu makan, menghindari berbaring selama sekitar tiga jam setelah makan, serta penggunaan obat sesuai anjuran tenaga kesehatan. Namun, apabila rasa terbakar di dada disertai tanda bahaya yang mengarah pada serangan jantung, keluhan tersebut harus diperlakukan sebagai kondisi darurat, bukan sekadar GERD.
3. Hernia Hiatus
Hernia hiatus terjadi ketika sebagian lambung bergerak naik melalui celah pada diafragma menuju rongga dada. Diafragma merupakan otot yang memisahkan rongga dada dan rongga perut serta berperan penting dalam proses pernapasan.
Kondisi ini dapat memengaruhi mekanisme yang membantu mencegah isi lambung kembali ke kerongkongan. Akibatnya, sebagian penderita mengalami refluks asam dan sensasi terbakar di dada.
Keluhan hernia hiatus sering menyerupai GERD, antara lain rasa panas di belakang tulang dada, regurgitasi atau naiknya isi lambung, perut kembung, dan sering bersendawa. Sebagian orang juga merasakan ketidaknyamanan pada perut bagian atas setelah makan.
Gejala dapat memburuk ketika penderita makan terlalu banyak, membungkuk, atau berbaring setelah makan. Namun, hernia hiatus berukuran kecil sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas.
Penanganannya bergantung pada ukuran hernia, tingkat keparahan gejala, dan ada tidaknya komplikasi. Perubahan pola makan serta pengobatan untuk mengendalikan refluks dapat membantu mengurangi keluhan. Pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan tindakan operasi.
Sensasi terbakar yang berulang tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami hernia hiatus. Diagnosis membutuhkan penilaian medis dan, jika diperlukan, pemeriksaan penunjang.
4. Esofagitis atau Peradangan Kerongkongan
Esofagitis merupakan peradangan pada lapisan kerongkongan yang dapat dipicu oleh refluks asam, obat-obatan tertentu, infeksi, atau reaksi alergi yang melibatkan kerongkongan.
Ketika lapisan kerongkongan mengalami peradangan, proses menelan dapat terasa menyakitkan. Penderita juga mungkin merasakan panas di dada, nyeri di belakang tulang dada, atau sensasi seolah-olah makanan tersangkut saat melewati saluran tersebut.
Refluks asam yang terjadi berulang kali merupakan salah satu penyebab penting esofagitis. Paparan asam yang terus-menerus dapat merusak jaringan kerongkongan dan, dalam kasus tertentu, menyebabkan luka, jaringan parut, atau penyempitan saluran.
Gejala yang perlu diperhatikan meliputi:
- Nyeri ketika menelan makanan atau minuman.
- Kesulitan menelan.
- Rasa terbakar di dada yang berulang.
- Sensasi makanan tersangkut di kerongkongan.
- Nyeri pada bagian tengah dada.
Esofagitis perlu ditangani berdasarkan penyebabnya. Dokter dapat memberikan terapi untuk menekan produksi asam lambung atau pengobatan lain sesuai hasil pemeriksaan.
Kesulitan menelan yang semakin berat, muntah darah, atau tinja berwarna hitam memerlukan evaluasi medis segera. Gejala tersebut dapat menunjukkan adanya komplikasi atau perdarahan saluran pencernaan.
5. Asma
Asma merupakan penyakit pernapasan kronis yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran udara. Ketika gejalanya kambuh, aliran udara menjadi terbatas sehingga penderita mengalami kesulitan bernapas.
Meskipun lebih dikenal melalui gejala mengi dan sesak napas, asma juga dapat menimbulkan sensasi tidak nyaman atau rasa tertekan di dada. Sebagian penderita menggambarkannya sebagai dada terasa panas atau seperti terbakar.
Gejala asma dapat dipicu oleh alergen, asap rokok, polusi udara, udara dingin, infeksi saluran pernapasan, maupun aktivitas fisik pada individu yang rentan.
Tanda lain yang dapat muncul antara lain:
- Batuk berulang, terutama pada malam hari atau menjelang pagi.
- Suara mengi ketika mengembuskan napas.
- Napas terasa pendek.
- Dada terasa sempit atau tertekan.
- Gejala yang berubah-ubah sesuai pemicu.
Hubungan antara asma dan GERD juga perlu diperhatikan. Refluks asam dapat memperburuk gejala asma pada sebagian orang, sedangkan kedua kondisi tersebut dapat terjadi bersamaan. Namun, hal ini tidak berarti setiap penderita asma pasti mengalami GERD.
Jika dada terasa terbakar disertai kesulitan bernapas yang berat, bibir tampak kebiruan, atau obat pelega yang diresepkan tidak membantu, segera cari pertolongan darurat. Gangguan pernapasan berat dapat mengancam keselamatan.
6. Tukak Lambung
Tukak lambung merupakan luka terbuka pada lapisan lambung. Luka juga dapat terjadi pada bagian awal usus halus yang disebut duodenum. Kondisi ini sering berkaitan dengan infeksi bakteri Helicobacter pylori atau penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen dan aspirin, terutama apabila digunakan dengan faktor risiko tertentu.
Tukak lambung dapat menimbulkan rasa perih atau terbakar pada ulu hati. Pada sebagian orang, ketidaknyamanan tersebut dapat terasa hingga bagian bawah dada dan menyerupai gangguan asam lambung.
Pola keluhan berbeda-beda. Nyeri dapat muncul ketika lambung kosong, pada malam hari, atau setelah makan. Karena itu, waktu kemunculan gejala saja tidak cukup untuk memastikan penyebabnya.
Gejala lain yang mungkin menyertai tukak lambung meliputi:
- Perut bagian atas terasa nyeri atau perih.
- Perut kembung.
- Sering bersendawa.
- Mual.
- Cepat merasa kenyang.
- Nafsu makan berkurang pada sebagian penderita.
Tukak lambung yang mengalami komplikasi dapat menyebabkan perdarahan atau kebocoran pada dinding saluran pencernaan. Muntah darah, muntah menyerupai bubuk kopi, tinja hitam seperti aspal, atau nyeri perut mendadak yang sangat hebat merupakan tanda bahaya yang memerlukan pertolongan segera.
Pengobatan disesuaikan dengan penyebab tukak. Apabila ditemukan infeksi H. pylori, dokter dapat memberikan kombinasi obat untuk memberantas bakteri sekaligus membantu penyembuhan luka. Penggunaan obat antinyeri tertentu sebaiknya dievaluasi bersama tenaga kesehatan jika terdapat dugaan tukak lambung.
7. Pneumonia
Pneumonia merupakan infeksi yang menyebabkan peradangan pada jaringan paru-paru. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau mikroorganisme lainnya. Pada kondisi ini, kantung udara kecil di paru-paru dapat terisi cairan atau bahan peradangan sehingga pertukaran oksigen terganggu.
Penderita pneumonia dapat mengalami nyeri dada yang terasa semakin kuat ketika menarik napas dalam-dalam atau batuk. Keluhan ini terkadang digambarkan sebagai sensasi panas, tertusuk, atau terbakar di dada.
Berbeda dari heartburn akibat GERD yang sering berkaitan dengan makan atau posisi tubuh, nyeri dada akibat pneumonia biasanya perlu dinilai bersama gejala infeksi dan gangguan pernapasan.
Tanda pneumonia dapat mencakup:
- Batuk berdahak atau batuk kering.
- Demam dan menggigil.
- Napas cepat atau sesak napas.
- Tubuh terasa lemah dan mudah lelah.
- Nyeri dada ketika bernapas atau batuk.
- Mual atau muntah pada sebagian penderita.
Gejala pneumonia dapat bervariasi menurut usia, kondisi kekebalan tubuh, dan penyebab infeksi. Pada lansia, misalnya, kebingungan atau perubahan kondisi umum terkadang lebih menonjol dibandingkan demam.
Pneumonia membutuhkan penilaian medis untuk menentukan tingkat keparahan dan terapi yang sesuai. Antibiotik hanya digunakan untuk infeksi bakteri sesuai penilaian dokter, bukan untuk seluruh jenis pneumonia. Jika muncul sesak berat, penurunan kesadaran, atau bibir membiru, pertolongan darurat diperlukan.
8. Angina atau Angina Pektoris
Angina pektoris adalah rasa nyeri atau ketidaknyamanan di dada yang terjadi ketika otot jantung tidak memperoleh pasokan darah kaya oksigen yang mencukupi kebutuhannya. Kondisi ini sering berhubungan dengan penyakit arteri koroner, yaitu penyempitan pembuluh darah yang memasok jantung.
Angina tidak selalu terasa seperti nyeri tajam. Sebagian orang mengalami dada seperti diremas, ditekan, terasa berat, atau terbakar. Sensasi tersebut dapat menyebar ke bahu, lengan, leher, rahang, punggung, maupun ulu hati.
Angina stabil sering muncul ketika seseorang melakukan aktivitas fisik atau mengalami tekanan emosional, kemudian membaik setelah beristirahat atau menggunakan obat yang diresepkan. Akan tetapi, pola gejala tidak selalu khas dan tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar diagnosis.
Angina yang baru muncul, semakin sering, berlangsung lebih lama, terasa lebih berat, atau muncul ketika sedang beristirahat dapat menandakan sindrom koroner akut. Kondisi ini membutuhkan evaluasi darurat karena dapat berkaitan dengan serangan jantung.
Faktor risiko penyakit arteri koroner antara lain merokok, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, kurang aktivitas fisik, serta riwayat keluarga dengan penyakit jantung.
Pemeriksaan dapat melibatkan elektrokardiogram (EKG), tes darah, dan pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien. Penanganan ditujukan untuk meningkatkan aliran darah ke jantung, mengurangi gejala, dan mencegah komplikasi.
9. Emboli Paru
Emboli paru merupakan penyumbatan pada arteri paru-paru, yang paling sering disebabkan oleh gumpalan darah yang terbentuk di pembuluh darah vena dalam, terutama di kaki, kemudian berpindah menuju paru-paru.
Kondisi ini berbahaya karena dapat menghambat aliran darah di paru-paru dan membebani jantung. Tingkat keparahannya bervariasi, tetapi emboli paru dapat mengancam nyawa apabila tidak segera ditangani.
Nyeri dada akibat emboli paru sering terasa tajam dan semakin kuat saat menarik napas dalam-dalam atau batuk. Sebagian orang juga mengalami sensasi tidak nyaman yang dapat disalahartikan sebagai gangguan pencernaan atau masalah otot.
Gejala yang perlu diwaspadai meliputi:
- Sesak napas yang muncul mendadak.
- Nyeri dada yang memburuk ketika bernapas.
- Detak jantung cepat.
- Batuk yang terkadang disertai darah.
- Pusing berat atau pingsan.
- Nyeri, pembengkakan, atau rasa hangat pada salah satu kaki.
Risiko emboli paru dapat meningkat setelah operasi besar, imobilisasi berkepanjangan, perjalanan panjang dengan sedikit pergerakan, atau pada kondisi medis tertentu. Namun, emboli paru juga dapat terjadi tanpa faktor risiko yang mudah dikenali.
Apabila seseorang mengalami sesak mendadak atau nyeri dada yang mencurigakan, terlebih jika disertai pingsan atau batuk berdarah, segera hubungi layanan kegawatdaruratan. Jangan menunda pemeriksaan untuk mencoba mengatasi keluhan tersebut dengan obat asam lambung.
10. Serangan Jantung
Serangan jantung atau infark miokard terjadi ketika aliran darah ke bagian otot jantung berkurang secara kritis atau terhenti, umumnya akibat penyumbatan pada pembuluh darah koroner. Kekurangan oksigen dapat merusak jaringan jantung sehingga membutuhkan penanganan secepat mungkin.
Gejala serangan jantung tidak selalu berupa nyeri dada hebat. Pada sebagian orang, keluhannya menyerupai tekanan, rasa berat, sesak, begah, atau sensasi terbakar di bagian tengah dada. Gejala dapat berlangsung selama beberapa menit, menghilang sementara, lalu muncul kembali.
Ketidaknyamanan juga dapat menjalar ke satu atau kedua lengan, punggung, bahu, leher, rahang, atau perut bagian atas. Keluhan lain yang dapat menyertai antara lain:
- Sesak napas.
- Keringat dingin.
- Mual atau muntah.
- Pusing atau kepala terasa ringan.
- Kelemahan yang tidak biasa.
- Jantung berdebar atau perubahan irama jantung.
Pada sebagian pasien, terutama perempuan, lansia, dan penderita diabetes, gejala dapat tidak khas. Serangan jantung terkadang muncul tanpa nyeri dada yang jelas dan lebih menonjol melalui sesak napas, kelelahan, atau rasa tidak nyaman di ulu hati.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Vito Damay, SpJP(K), FIHA, FICA, menjelaskan bahwa gejala serangan jantung dan GERD dapat menyerupai satu sama lain. Rasa panas pada serangan jantung dapat disertai tekanan dan ketidaknyamanan di dada.
“Serangan jantung tidak selalu terasa sebagai nyeri dada, tapi mirip seperti ‘GERD’ atau nyeri ulu hati. Hal ini membuat serangan jantung sering terlewat pada situasi seperti ini,” katanya.
Perbedaan kedua kondisi tersebut tidak selalu dapat ditentukan melalui sensasi yang dirasakan pasien. Pemeriksaan seperti EKG dan tes darah untuk menilai penanda kerusakan otot jantung dapat diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Jika dicurigai mengalami serangan jantung, segera hubungi layanan darurat dan jangan mengemudi sendiri menuju rumah sakit. Penanganan yang cepat dapat membantu mengurangi kerusakan otot jantung dan meningkatkan peluang pemulihan.
Kapan Dada Terasa Terbakar Harus Mendapat Pertolongan Medis?
Dada terasa terbakar perlu segera diperiksa apabila keluhannya berat, muncul mendadak, atau disertai gejala yang mengarah pada gangguan jantung maupun paru-paru. Jangan menunggu sampai nyeri semakin parah untuk mencari bantuan.
Segera hubungi layanan kegawatdaruratan apabila mengalami salah satu tanda berikut:
- Tekanan atau rasa terbakar di dada: terutama jika terasa di bagian tengah atau kiri dada, berlangsung beberapa menit, atau hilang dan muncul kembali.
- Nyeri menjalar: rasa tidak nyaman menyebar ke lengan, bahu, punggung, leher, rahang, atau perut bagian atas.
- Sesak napas: kesulitan bernapas yang muncul mendadak atau terjadi bersama nyeri dada.
- Keringat dingin: berkeringat berlebihan tanpa penyebab yang jelas, terutama jika disertai rasa lemas atau nyeri dada.
- Mual dan muntah: terlebih jika terjadi bersamaan dengan tekanan di dada atau ketidaknyamanan pada ulu hati.
- Pusing berat atau pingsan: kondisi ini dapat menunjukkan gangguan serius pada sirkulasi darah atau irama jantung.
- Detak jantung tidak normal: jantung berdebar sangat cepat atau terasa tidak teratur, terutama jika disertai sesak dan nyeri dada.
- Batuk berdarah: khususnya jika muncul bersama nyeri dada saat menarik napas atau sesak mendadak.
Jika tanda tersebut muncul, hentikan aktivitas dan minta bantuan medis segera. Jangan menganggap keluhan hanya disebabkan oleh GERD, kecemasan, atau kelelahan tanpa pemeriksaan.
Apabila tersedia, gunakan layanan ambulans atau layanan kegawatdaruratan setempat. Jangan menunda pertolongan untuk mencoba berbagai obat rumahan. Jika pasien kehilangan kesadaran dan tidak bernapas secara normal, orang di sekitarnya perlu menghubungi layanan darurat dan mengikuti instruksi petugas mengenai resusitasi jantung paru (RJP).
Bagaimana Membedakan Dada Terbakar akibat GERD dan Gangguan Jantung?
GERD dan serangan jantung dapat menimbulkan keluhan yang mirip, sehingga membedakannya hanya berdasarkan gejala tidak selalu memungkinkan. Meski demikian, beberapa pola dapat menjadi petunjuk awal.
| Karakteristik | GERD | Gangguan jantung |
|---|---|---|
| Sensasi | Panas atau terbakar di belakang tulang dada | Tekanan, remasan, rasa berat, sesak, atau terbakar |
| Hubungan dengan makanan | Sering memburuk setelah makan | Dapat muncul tanpa hubungan dengan makanan |
| Posisi tubuh | Dapat memburuk saat berbaring atau membungkuk | Tidak selalu dipengaruhi posisi tubuh |
| Gejala penyerta | Rasa asam di mulut, regurgitasi, bersendawa | Sesak napas, keringat dingin, pusing, atau nyeri menjalar |
| Pemeriksaan | Berdasarkan riwayat gejala dan pemeriksaan sesuai kebutuhan | Dapat memerlukan EKG dan pemeriksaan penanda kerusakan otot jantung |
Perbandingan tersebut bukan alat untuk mendiagnosis diri sendiri. Serangan jantung dapat menyerupai gangguan pencernaan, sementara GERD juga dapat menimbulkan nyeri dada yang cukup berat.
Apabila rasa terbakar di dada merupakan keluhan baru, tidak biasa, atau disertai tanda bahaya, utamakan pemeriksaan medis. Respons terhadap obat antasida pun tidak dapat digunakan untuk memastikan bahwa penyebabnya bukan gangguan jantung.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Risiko Dada Terasa Terbakar?
Langkah pencegahan sebaiknya disesuaikan dengan penyebab keluhan. Jika sensasi terbakar berkaitan dengan refluks asam, perubahan kebiasaan makan dapat membantu. Sebaliknya, apabila gejala berkaitan dengan gangguan jantung atau paru-paru, penanganan medis menjadi prioritas.
Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan meliputi:
- Mengatur porsi makan. Hindari makan dalam jumlah terlalu besar sekaligus jika kebiasaan tersebut memicu refluks asam.
- Tidak langsung berbaring setelah makan. Beri jeda sekitar tiga jam sebelum berbaring atau tidur untuk membantu mengurangi kemungkinan refluks.
- Mengenali makanan pemicu. Makanan berlemak, pedas, cokelat, kopi, atau makanan asam dapat memperburuk gejala pada sebagian orang. Pemicu setiap individu berbeda, sehingga pembatasan makanan sebaiknya disesuaikan dengan respons tubuh.
- Menghindari rokok. Merokok meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan dapat memperburuk sejumlah gangguan pencernaan.
- Mengelola stres. Teknik relaksasi, aktivitas fisik sesuai kemampuan, dan tidur yang cukup dapat membantu mengurangi keluhan yang berhubungan dengan kecemasan.
- Menjaga kesehatan jantung. Pantau tekanan darah, kadar kolesterol, dan gula darah serta lakukan aktivitas fisik secara teratur sesuai kondisi kesehatan.
- Menggunakan obat secara tepat. Hindari penggunaan obat antinyeri secara berlebihan, khususnya jika memiliki riwayat tukak lambung atau gangguan pencernaan.
- Memeriksakan gejala berulang. Dada terasa terbakar yang terus berulang atau mengganggu aktivitas perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan untuk menemukan penyebabnya.
Tidak semua sensasi terbakar di dada dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup. Pneumonia, emboli paru, serangan jantung, dan kondisi lainnya dapat memerlukan penanganan khusus yang tidak bisa digantikan dengan pengaturan pola makan atau istirahat.
Jika keluhan berulang meskipun telah melakukan perubahan kebiasaan, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter. Pemeriksaan dapat membantu menentukan apakah penyebabnya berasal dari sistem pencernaan, jantung, paru-paru, atau kondisi lain yang membutuhkan terapi berbeda.


