Kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis telah menjadi bagian dari pola makan sehari-hari banyak orang. Soda, minuman buah kemasan, limun, hingga minuman olahraga kerap dipilih karena praktis dan memiliki rasa manis yang mudah diterima. Namun, penelitian terbaru memberikan alasan tambahan untuk memperhatikan seberapa sering minuman tersebut dikonsumsi.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Gastro Hep Advances menemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman yang mengandung gula tambahan dan risiko kanker lambung. Penelitian tersebut menjadi perhatian karena mengamati populasi di Amerika Serikat dalam periode yang panjang dan melibatkan lebih dari 112.000 peserta.
“Ini adalah studi pertama yang menunjukkan adanya hubungan antara asupan minuman manis berpemanis gula dengan kanker lambung pada populasi di AS,” ujar penulis senior sekaligus gastroenterolog, Dr. Andrew T. Chan dari Massachusetts General Hospital dikutip dari Science Alert, Rabu (19/8/2026).
Temuan ini tidak berarti setiap orang yang mengonsumsi minuman manis akan mengalami kanker lambung. Penelitian tersebut bersifat observasional sehingga hasilnya menunjukkan adanya hubungan statistik, bukan bukti bahwa minuman manis secara langsung menyebabkan kanker. Meski demikian, hasil penelitian memberikan dasar untuk meneliti lebih jauh pengaruh pola konsumsi gula terhadap kesehatan saluran pencernaan.
“Kanker lambung adalah penyebab kematian akibat kanker kelima di dunia, tetapi selama ini kita hanya tahu sedikit tentang bagaimana diet berkontribusi terhadap kanker ini,” tambahnya.
Penelitian Melibatkan Data Puluhan Tahun
Para peneliti menggunakan data dari dua studi kohort besar di Amerika Serikat, yaitu Nurses’ Health Study (NHS) dan Health Professionals Follow-Up Study (HPFS). Kedua penelitian tersebut menyediakan informasi kesehatan dan pola hidup peserta yang dapat ditelusuri dalam jangka panjang.
Data yang dianalisis mencakup periode 1986 hingga 2022. Dari lebih dari 112.000 peserta yang diteliti, tercatat 278 kasus kanker lambung selama masa pemantauan.
Salah satu temuan paling mencolok terlihat pada kelompok peserta yang mengonsumsi sedikitnya satu porsi minuman berpemanis gula setiap hari. Kelompok tersebut tercatat memiliki risiko kanker lambung sekitar 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan peserta yang jarang mengonsumsi minuman sejenis.
Angka tersebut merupakan perbandingan risiko berdasarkan pola konsumsi dalam populasi penelitian. Karena desain penelitian tidak dapat membuktikan sebab-akibat secara langsung, hasilnya tetap perlu dibaca dengan mempertimbangkan faktor kesehatan dan gaya hidup lain yang mungkin berperan.
Perbedaan Risiko pada Perempuan dan Laki-Laki
Analisis berdasarkan jenis kelamin menunjukkan adanya perbedaan tingkat asosiasi. Pada perempuan, konsumsi sedikitnya satu porsi minuman manis setiap hari dikaitkan dengan peningkatan risiko yang lebih tinggi dibandingkan kelompok laki-laki.
Perempuan dalam penelitian yang mengonsumsi jumlah tersebut tercatat memiliki risiko sekitar 3,04 kali lipat dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsi minuman berpemanis. Sementara itu, pada laki-laki, peningkatan risikonya berada di sekitar 1,99 kali lipat.
Perbedaan tersebut belum dapat secara otomatis diartikan bahwa perempuan lebih rentan terhadap kanker lambung akibat minuman manis. Peneliti masih perlu mengevaluasi berbagai kemungkinan faktor biologis, metabolik, hormonal, maupun pola hidup yang dapat menjelaskan perbedaan tersebut.
Chan juga menyoroti perubahan pola kanker pada kelompok usia yang lebih muda.
“Ini jelas merupakan sebuah kekhawatiran karena kami melihat adanya peningkatan kanker pada saluran pencernaan, khususnya pada orang muda di bawah usia 50 tahun,” tuturnya kepada Fox News Digital, Rabu (19/8/2026).
Soda dan Minuman Tinggi Fruktosa Menjadi Perhatian
Jenis minuman yang masuk dalam evaluasi penelitian mencakup soda biasa, minuman buah seperti punch, limun, serta minuman olahraga. Produk-produk tersebut pada umumnya mengandung gula tambahan dan dalam sejumlah formulasi dapat menggunakan sirup jagung tinggi fruktosa.
Fruktosa kemudian menjadi salah satu komponen yang mendapat perhatian dalam analisis. Peneliti menemukan adanya hubungan yang konsisten antara tingginya asupan fruktosa dan peningkatan kasus kanker lambung.
Temuan tersebut membuat konsumsi gula dalam bentuk cair perlu diperhatikan. Minuman berpemanis dapat membuat seseorang memperoleh gula dalam jumlah cukup besar tanpa merasa kenyang seperti ketika mengonsumsi makanan padat.
Namun, hal ini bukan berarti semua minuman dengan rasa manis memiliki dampak yang sama. Penelitian juga membandingkan konsumsi minuman berpemanis gula dengan minuman yang menggunakan pemanis buatan.
Menariknya, tidak ditemukan hubungan yang sama antara minuman berpemanis buatan, seperti soda diet, dengan peningkatan risiko kanker lambung dalam analisis tersebut. Temuan ini masih perlu diteliti lebih lanjut sebelum dapat digunakan untuk membuat rekomendasi kesehatan yang lebih luas.
Mengapa Fruktosa Diduga Berperan?
Mekanisme biologis yang menjelaskan hubungan antara minuman manis dan kanker lambung belum sepenuhnya diketahui. Para peneliti masih mengkaji sejumlah jalur biologis yang mungkin terlibat.
Beberapa kemungkinan yang diperhatikan meliputi peningkatan berat badan, resistensi insulin, perubahan hormon steroid, inflamasi kronis, kerusakan DNA, hingga perubahan komposisi bakteri dalam saluran pencernaan atau disbiosis.
Asupan gula yang tinggi juga dapat berhubungan dengan perubahan metabolisme tubuh. Dalam jangka panjang, gangguan metabolik tertentu dapat menciptakan lingkungan biologis yang berpotensi memengaruhi proses peradangan dan kesehatan jaringan.
Meski demikian, hubungan tersebut masih berupa dugaan mekanistik dan belum dapat digunakan untuk menyatakan bahwa fruktosa secara langsung menyebabkan kanker lambung pada manusia.
Bukan Sekadar Masalah Helicobacter pylori
Salah satu aspek menarik dari penelitian ini adalah pemeriksaan terhadap Helicobacter pylori atau H. pylori. Bakteri tersebut dikenal sebagai salah satu faktor risiko utama dalam perkembangan kanker lambung.
Peneliti berusaha melihat apakah hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dan kanker lambung dapat dijelaskan melalui keberadaan bakteri tersebut. Namun, hasil analisis tidak menunjukkan hubungan antara konsumsi minuman manis dan status H. pylori.
Temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa mekanisme lain, termasuk pengaruh metabolisme fruktosa, dapat berperan dalam hubungan yang diamati. Kendati demikian, diperlukan penelitian tambahan untuk mengetahui jalur biologis yang sebenarnya.
Studi Belum Membuktikan Hubungan Sebab-Akibat
Keterbatasan utama penelitian perlu menjadi perhatian ketika membaca hasil mengenai minuman manis dan kanker lambung. Penelitian kohort observasional dapat menemukan pola antara kebiasaan tertentu dan kejadian penyakit, tetapi tidak dapat memastikan bahwa kebiasaan tersebut menjadi penyebab tunggal.
Peserta penelitian juga memiliki karakteristik tertentu. Mayoritas berasal dari kelompok tenaga kesehatan berkulit putih dengan rentang usia sekitar 30 hingga 75 tahun. Kondisi tersebut membuat hasil penelitian belum tentu dapat diterapkan secara langsung pada seluruh kelompok masyarakat di dunia.
Faktor lain yang tidak sepenuhnya dapat dipisahkan juga perlu diperhitungkan, termasuk pola makan keseluruhan, berat badan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kondisi metabolik, serta faktor genetik.
“Kami tentu membutuhkan lebih banyak penelitian untuk memahami apakah asosiasi antara minuman berpemanis gula dan kanker lambung ini benar-benar bersifat kausal,” kata Chan.
Penelitian lanjutan dengan populasi yang lebih beragam diperlukan untuk menguji apakah pola serupa juga terlihat pada kelompok masyarakat dengan latar belakang etnis, usia, wilayah geografis, dan pola konsumsi yang berbeda. Penelitian berbasis mekanisme biologis juga penting untuk mengetahui bagaimana paparan gula dan fruktosa dalam jangka panjang mungkin berhubungan dengan perubahan pada jaringan lambung.
Bagi masyarakat, temuan ini setidaknya menjadi pengingat untuk tidak menjadikan minuman berpemanis sebagai bagian yang terlalu dominan dalam pola konsumsi harian. Air putih tetap dapat menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan, sementara konsumsi minuman tinggi gula dapat dibatasi sebagai bagian dari upaya menjaga pola makan secara keseluruhan.


