Kanker selama ini lebih sering dikaitkan dengan kelompok usia lanjut. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan adanya perubahan pola pada beberapa jenis kanker yang semakin banyak terdiagnosis pada kelompok usia lebih muda. Fenomena ini menjadi perhatian para peneliti karena terjadi pada rentang usia ketika seseorang umumnya masih berada dalam tahap produktif.
Analisis yang dilakukan oleh peneliti dari Institute of Cancer Research dan Imperial College London di Inggris menemukan peningkatan kejadian pada 11 jenis kanker tertentu di kalangan orang dewasa muda. Kelompok yang diamati mencakup usia akhir remaja hingga sekitar 40 tahun. Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa kanker tetap relatif jarang terjadi pada kelompok usia tersebut dibandingkan populasi yang lebih tua.
Peningkatan kanker pada usia muda juga belum dapat dijelaskan oleh satu penyebab tunggal. Para ilmuwan masih menelusuri berbagai kemungkinan yang mungkin berkontribusi terhadap perubahan pola tersebut, termasuk faktor metabolik, lingkungan, pola konsumsi, serta perubahan gaya hidup masyarakat dalam beberapa dekade terakhir.
Daftar Kanker yang Mengalami Peningkatan pada Usia Muda
Dalam analisis tersebut, terdapat 11 jenis kanker yang semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Jenis kanker tersebut meliputi:
1. Kanker usus.
2. Kanker tiroid.
3. Multiple myeloma.
4. Kanker hati.
5. Kanker ginjal.
6. Kanker kandung empedu.
7. Kanker pankreas.
8. Kanker endometrium atau lapisan rahim.
9. Kanker mulut.
10. Kanker payudara.
11. Kanker ovarium.
Tidak seluruh kanker tersebut mengalami peningkatan dengan pola yang sama. Kanker usus dan kanker ovarium dalam penelitian tersebut menunjukkan peningkatan yang secara khusus terlihat pada kelompok usia lebih muda. Sementara itu, beberapa jenis kanker lainnya juga memperlihatkan peningkatan pada kelompok usia yang lebih tua.
Kanker usus dan payudara menjadi dua jenis yang cukup menonjol dari sisi jumlah kasus pada orang dewasa muda. Jika digabungkan, keduanya diperkirakan menyumbang sekitar 11.500 kasus per tahun dalam data yang dianalisis.
Sebaliknya, kanker pankreas dan kanker kandung empedu masih termasuk jenis kanker yang lebih jarang ditemukan. Karena itu, peningkatan kasus pada jenis kanker yang relatif langka perlu dibaca secara hati-hati dan tidak serta-merta diartikan bahwa sebagian besar anak muda memiliki risiko tinggi mengalami penyakit tersebut.
Obesitas Menjadi Salah Satu Faktor yang Diteliti
Para peneliti kemudian membandingkan tren kanker dengan berbagai faktor gaya hidup yang diketahui memiliki hubungan dengan risiko penyakit tersebut. Beberapa faktor yang diperhatikan antara lain kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, tingkat aktivitas fisik, konsumsi daging merah dan daging olahan, serta pola makan rendah serat.
Perubahan pada faktor-faktor tersebut dinilai belum cukup menjelaskan peningkatan kanker pada kelompok usia muda. Salah satu pola yang dinilai lebih sejalan dengan perubahan kejadian kanker adalah meningkatnya prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas.
Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah orang yang mengalami kelebihan berat badan telah meningkat di berbagai kelompok masyarakat. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu fokus penelitian karena jaringan lemak berlebih dapat berhubungan dengan berbagai perubahan biologis di dalam tubuh.
Kelebihan jaringan lemak, misalnya, dapat memengaruhi metabolisme dan regulasi hormon. Perubahan kadar insulin serta proses peradangan kronis merupakan beberapa mekanisme biologis yang sedang dipelajari kaitannya dengan perkembangan kanker.
Namun, temuan tersebut tidak berarti bahwa obesitas merupakan penyebab tunggal meningkatnya seluruh kasus kanker pada usia muda. Hubungan antara berat badan dan kanker sangat kompleks dan dapat berbeda berdasarkan jenis kanker, usia, faktor genetik, serta kondisi kesehatan seseorang.
Sebagian Besar Peningkatan Kasus Masih Belum Terjelaskan
Salah satu hal penting dari penelitian tersebut adalah adanya batasan dalam menjelaskan penyebab peningkatan kanker pada kelompok usia muda. Hubungan antara obesitas dan kejadian kanker memang terlihat pada sejumlah data, tetapi kontribusinya tidak cukup besar untuk menjelaskan seluruh peningkatan.
Pada kanker usus, misalnya, peneliti memperkirakan bahwa dari setiap 100 kasus tambahan, sekitar 20 kasus mungkin memiliki keterkaitan dengan kelebihan berat badan. Dengan demikian, masih terdapat sebagian besar kasus yang memerlukan penjelasan melalui faktor lainnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penelitian mengenai kanker pada usia muda masih berkembang. Para ilmuwan belum dapat menyimpulkan bahwa perubahan berat badan masyarakat merupakan jawaban lengkap terhadap fenomena tersebut.
Sejumlah faktor lain kini ikut diteliti. Di antaranya adalah konsumsi makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF), minuman berpemanis, penggunaan antibiotik, paparan bahan kimia tertentu seperti PFAS, polusi udara, perubahan mikrobioma usus, peradangan, hingga paparan herbisida.
Masing-masing faktor tersebut memiliki mekanisme dan tingkat bukti yang berbeda. Karena itu, masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah faktor tertentu benar-benar menyebabkan peningkatan risiko atau hanya memiliki hubungan statistik dengan kejadian kanker.
Kemungkinan Faktor Deteksi yang Lebih Baik
Peningkatan jumlah diagnosis pada kelompok usia muda juga tidak selalu berarti bahwa kejadian penyakit benar-benar meningkat dalam proporsi yang sama. Perubahan kemampuan medis dalam menemukan penyakit dan meningkatnya kesadaran terhadap gejala juga dapat memengaruhi jumlah kanker yang berhasil teridentifikasi.
Teknologi pemeriksaan yang semakin berkembang memungkinkan dokter mendeteksi sejumlah kelainan lebih awal. Selain itu, masyarakat yang lebih mudah mengakses informasi kesehatan mungkin lebih cepat mencari pertolongan ketika mengalami gejala tertentu.
Para peneliti masih mempertimbangkan sejauh mana peningkatan deteksi dapat menjelaskan perubahan angka kanker pada usia muda. Dengan kata lain, diperlukan pemisahan yang cermat antara peningkatan kejadian penyakit yang sebenarnya dan peningkatan kemampuan sistem kesehatan dalam menemukan kasus.
Kanker Usus pada Usia 23 Tahun
Salah satu gambaran mengenai kanker yang muncul pada usia sangat muda terlihat dari pengalaman Bradley Coombes, seorang pria asal Portsmouth, Inggris. Ia meninggal akibat kanker usus ketika berusia 23 tahun.
Menurut keluarganya, Bradley sebelumnya dikenal sebagai pemuda yang sehat dan aktif. Ia bahkan sedang mempersiapkan diri untuk menandatangani kontrak sepak bola semi-profesional. Kondisi tersebut membuat munculnya penyakit berat pada usia muda menjadi sesuatu yang sulit diperkirakan.
Perubahan kondisi mulai terlihat setelah tahun pertamanya di universitas. Bradley mengalami penurunan berat badan yang signifikan disertai rasa sakit pada bagian perut. Seiring waktu, keluhannya berkembang menjadi diare dan munculnya darah pada tinja.
Gejala tersebut merupakan tanda yang seharusnya mendapatkan evaluasi medis lebih lanjut. Namun, pada orang yang masih sangat muda, keluhan pencernaan terkadang dapat dianggap berkaitan dengan gangguan kesehatan yang lebih umum sehingga kemungkinan kanker tidak langsung menjadi dugaan utama.
Dalam kasus Bradley, proses hingga mendapatkan diagnosis berlangsung sekitar 18 bulan sejak gejala awal muncul. Ketika akhirnya dilakukan kolonoskopi, tumor yang ditemukan sudah berukuran sangat besar hingga menyulitkan alat pemeriksaan melewati bagian usus yang terdampak.
Bradley kemudian menjalani operasi dan kemoterapi. Namun, penyakit tersebut terus berkembang meskipun telah mendapatkan pengobatan. Ia akhirnya meninggal dunia dalam usia yang masih sangat muda.
Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya perhatian terhadap gejala yang menetap atau semakin memburuk, terlepas dari usia seseorang. Kehadiran gejala tidak otomatis berarti seseorang terkena kanker, tetapi keluhan yang tidak biasa dan berlangsung terus-menerus perlu mendapatkan evaluasi tenaga medis.
Gejala Kanker Usus yang Perlu Diperhatikan
Kanker usus dapat menimbulkan berbagai gejala yang terkadang menyerupai gangguan pencernaan biasa. Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain perubahan kebiasaan buang air besar, diare atau sembelit yang berlangsung terus-menerus, darah pada tinja, sakit atau kram perut, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, serta rasa lelah yang tidak biasa.
Tidak semua orang dengan gejala tersebut mengalami kanker. Banyak kondisi lain yang dapat menimbulkan keluhan serupa. Namun, apabila gejala menetap, berulang, atau semakin berat, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Perhatian terhadap perubahan tubuh menjadi semakin penting ketika terdapat faktor risiko tertentu atau riwayat penyakit dalam keluarga. Tenaga kesehatan dapat menentukan apakah seseorang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut berdasarkan gejala, usia, riwayat kesehatan, dan faktor risiko yang dimiliki.
Gaya Hidup dan Pencegahan Risiko Kanker
Meskipun penyebab peningkatan kanker pada usia muda belum sepenuhnya diketahui, penerapan pola hidup sehat tetap memiliki peran dalam menurunkan berbagai risiko penyakit. Menjaga berat badan dalam rentang yang sehat, aktif bergerak, mengonsumsi makanan bergizi dengan kandungan serat yang memadai, serta membatasi konsumsi makanan ultra-proses merupakan beberapa langkah yang secara umum mendukung kesehatan.
Menghindari rokok dan membatasi konsumsi alkohol juga penting karena keduanya telah lama dikaitkan dengan berbagai jenis kanker. Selain itu, pemeriksaan kesehatan dan konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu seseorang memahami faktor risiko pribadi serta menentukan pemeriksaan yang sesuai.
Fenomena meningkatnya kanker pada usia muda masih menjadi bidang penelitian yang terus berkembang. Para ilmuwan masih berupaya mengidentifikasi kombinasi faktor biologis, lingkungan, metabolik, pola makan, mikrobioma, dan perubahan gaya hidup yang mungkin berperan dalam perubahan tren tersebut.


