Sadamantra — Diabetes merupakan salah satu penyakit kronis yang terus mengalami peningkatan jumlah penderita di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penyakit ini tidak hanya berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor genetik dan biologis tertentu.
Salah satu faktor yang belakangan menarik perhatian para peneliti adalah golongan darah. Sejumlah studi ilmiah menunjukkan bahwa golongan darah tertentu memiliki risiko lebih tinggi untuk mengidap diabetes, khususnya diabetes tipe 2.
Temuan ini memicu diskusi luas karena selama ini golongan darah lebih sering dikaitkan dengan kebutuhan transfusi atau kecocokan donor, bukan sebagai indikator risiko penyakit metabolik. Namun, bukti ilmiah mulai menunjukkan adanya hubungan antara karakteristik darah dan gangguan pengaturan gula dalam tubuh.
Diabetes Tipe 2 dan Dampaknya bagi Kesehatan
Diabetes tipe 2 adalah kondisi ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif atau tidak memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup. Akibatnya, kadar gula darah meningkat dan sulit dikendalikan.
Jika tidak ditangani dengan baik, diabetes tipe 2 dapat memicu komplikasi serius seperti penyakit jantung, gagal ginjal, gangguan saraf, hingga kebutaan.
Berbeda dengan diabetes tipe 1 yang bersifat autoimun, diabetes tipe 2 lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan gaya hidup. Pola makan tinggi gula, kurang aktivitas fisik, obesitas, serta riwayat keluarga menjadi pemicu utama.
Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa golongan darah juga dapat berperan dalam meningkatkan atau menurunkan risiko seseorang mengalami penyakit ini.
Untuk memahami lebih jauh tentang perbedaan diabetes tipe 1 dan tipe 2, Anda dapat membaca artikel kesehatan terkait yang membahas mekanisme dan faktor risikonya secara lebih mendalam.
Studi Ilmiah tentang Golongan Darah dan Diabetes
Hubungan antara golongan darah dan risiko diabetes tipe 2 diperkuat oleh penelitian besar yang dilakukan pada tahun 2014 dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Diabetologia milik Asosiasi Diabetes Eropa.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengamati sekitar 80 ribu wanita selama periode waktu tertentu untuk melihat kemungkinan munculnya diabetes tipe 2.
Dari jumlah partisipan tersebut, tercatat 3.553 wanita didiagnosis mengidap diabetes tipe 2. Setelah dianalisis lebih lanjut, hasilnya menunjukkan adanya perbedaan risiko yang cukup signifikan berdasarkan golongan darah.
Individu dengan golongan darah non-O, yaitu A, B, dan AB, memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami diabetes tipe 2 dibandingkan mereka yang bergolongan darah O.
Temuan ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa faktor biologis bawaan, seperti golongan darah, dapat memengaruhi metabolisme tubuh dalam jangka panjang.
Golongan Darah dengan Risiko Diabetes Tertinggi

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis lanjutan yang dikutip berbagai media kesehatan internasional, golongan darah B tercatat memiliki risiko tertinggi.
Wanita dengan golongan darah A memiliki kemungkinan sekitar 10 persen lebih besar untuk mengembangkan diabetes tipe 2 dibandingkan wanita dengan golongan darah O.
Sementara itu, risiko pada wanita dengan golongan darah B bahkan mencapai 21 persen lebih tinggi dibandingkan dengan golongan darah O. Ketika data dipersempit berdasarkan faktor rhesus, wanita dengan golongan darah B positif menunjukkan peningkatan risiko yang paling signifikan jika dibandingkan dengan golongan darah O negatif.
Golongan darah AB juga termasuk dalam kelompok non-O yang memiliki risiko lebih tinggi, meskipun tidak setinggi golongan darah B. Sebaliknya, golongan darah O dinilai memiliki efek perlindungan relatif terhadap perkembangan diabetes tipe 2.
Mengapa Golongan Darah Non-O Lebih Berisiko?
Hingga saat ini, mekanisme pasti yang menghubungkan golongan darah dengan diabetes tipe 2 masih terus diteliti. Namun, para ahli mengemukakan beberapa hipotesis ilmiah yang cukup kuat. Salah satunya berkaitan dengan kadar protein tertentu dalam darah, seperti faktor von Willebrand dan faktor pembekuan lainnya.
Individu dengan golongan darah non-O cenderung memiliki kadar faktor-faktor tersebut lebih tinggi. Kondisi ini diyakini berhubungan dengan peradangan kronis tingkat rendah dalam tubuh, yang merupakan salah satu pemicu resistensi insulin. Resistensi insulin inilah yang menjadi kunci utama dalam perkembangan diabetes tipe 2.
Selain itu, golongan darah non-O juga dikaitkan dengan peningkatan kadar molekul tertentu yang berperan dalam metabolisme glukosa dan respons insulin. Kombinasi faktor-faktor inilah yang diduga membuat individu dengan golongan darah A, B, dan AB lebih rentan mengalami gangguan pengaturan gula darah.
Artikel lain tentang faktor risiko diabetes selain pola makan juga menjelaskan bagaimana peran genetik dan inflamasi berkontribusi terhadap penyakit ini.
Golongan Darah B Perlu Lebih Waspada
Bagi individu dengan golongan darah B, temuan ini bukan berarti diabetes pasti akan terjadi. Namun, risiko yang lebih tinggi menunjukkan pentingnya kewaspadaan sejak dini. Menjaga berat badan ideal, mengatur pola makan seimbang, serta rutin berolahraga menjadi langkah penting untuk menekan risiko tersebut.
Pemeriksaan gula darah secara berkala juga sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko tambahan seperti riwayat keluarga diabetes, tekanan darah tinggi, atau kolesterol tinggi. Dengan deteksi dini, diabetes tipe 2 dapat dikendalikan sebelum menimbulkan komplikasi serius.
Golongan Darah O Bukan Berarti Bebas Risiko
Meski golongan darah O dinilai memiliki risiko lebih rendah, bukan berarti individu dengan golongan darah ini sepenuhnya aman dari diabetes. Gaya hidup tidak sehat tetap menjadi faktor dominan yang dapat memicu penyakit ini pada siapa pun, tanpa memandang golongan darah.
Konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik, serta stres berkepanjangan dapat meningkatkan risiko diabetes bahkan pada kelompok dengan risiko biologis lebih rendah. Oleh karena itu, prinsip pencegahan tetap berlaku untuk semua golongan darah.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa golongan darah dapat menjadi salah satu faktor risiko diabetes tipe 2. Golongan darah non-O, khususnya golongan darah B, memiliki kecenderungan risiko yang lebih tinggi dibandingkan golongan darah O. Meski demikian, hubungan ini masih bersifat asosiasi dan belum sepenuhnya menjelaskan sebab-akibat secara langsung.
Yang terpenting, hasil penelitian ini seharusnya menjadi pengingat bahwa pencegahan diabetes harus dilakukan secara menyeluruh. Menjaga pola hidup sehat, rutin memeriksakan kesehatan, dan memahami faktor risiko pribadi merupakan langkah terbaik untuk menekan kemungkinan terkena diabetes tipe 2, apa pun golongan darah Anda.


